KARANGANYAR – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Irwan Akib, secara resmi membuka Rapat Kerja Duta Madrasah Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen & PNF) PP Muhammadiyah. Mengusung tema “Menguatkan Mutu untuk Mewujudkan Madrasah Muhammadiyah Unggul Berwawasan Global”, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat kualitas dan daya saing madrasah Muhammadiyah di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam sambutannya, Kamis (23/7), Irwan menegaskan bahwa kehadiran Duta Madrasah Muhammadiyah diharapkan menjadi motor penggerak transformasi pendidikan di lingkungan madrasah Muhammadiyah. Mereka diharapkan mampu mendampingi, mengembangkan, sekaligus mendorong peningkatan mutu madrasah di berbagai daerah agar mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan jati dirinya.
“Melalui Duta Madrasah inilah kemudian kita mencoba melakukan pengembangan-pengembangan, mendampingi sekolah dan madrasah-madrasah kita yang ada di seluruh wilayah Indonesia agar dapat bersaing, maju, unggul, hingga memasuki ranah global,” ujar Irwan.
Meski demikian, menurutnya, keunggulan Madrasah Muhammadiyah tidak boleh hanya diukur dari capaian akademik semata. Lebih dari itu, pendidikan Muhammadiyah harus berlandaskan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (Ismuba) yang menjadi ruh dalam seluruh proses pendidikan.
Ia menekankan bahwa penguatan karakter merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan kualitas peserta didik. Madrasah Muhammadiyah harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia, integritas, dan komitmen terhadap nilai-nilai Islam berkemajuan.
“Islam Kemuhammadiyahan itu harus mewarnai, menjadi ruh madrasah Muhammadiyah. Sehingga harapannya anak-anak di samping intelektualnya bagus, karakternya juga penting,” jelasnya.
Madrasah Harus Terus Berbenah
Dalam forum yang juga dihadiri para pengelola dan kepala Madrasah Muhammadiyah itu, Irwan juga mengingatkan bahwa kepercayaan masyarakat hanya dapat diraih melalui kualitas pendidikan yang terus meningkat. Karena itu, ia mendorong seluruh kepala madrasah untuk memiliki keberanian melakukan inovasi dan perubahan.
Menurutnya, seorang kepala madrasah tidak boleh merasa puas dengan kondisi yang telah dicapai. Sebaliknya, kepemimpinan pendidikan harus diwarnai semangat pembaruan dan keberanian keluar dari zona nyaman demi kemajuan lembaga yang dipimpin.
“Jangan terlalu lama duduk pada zona nyaman. Bahwa bekerja sebagai kepala sekolah itu butuh perjuangan untuk membesarkan sekolah,” tegas Irwan.
Lebih lanjut, Irwan memandang bahwa menjadi kepala sekolah atau kepala madrasah Muhammadiyah bukan sekadar menjalankan tugas administratif, melainkan bagian dari amanah perjuangan Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, ia menyampaikan sejumlah pesan pentingnya.
Pertama, kepala madrasah harus membangun komunikasi yang baik dengan guru, tenaga kependidikan, orang tua, maupun seluruh unsur yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan. Komunikasi yang dilandasi etika dan kebijaksanaan akan menjadi fondasi terciptanya lingkungan pendidikan yang sehat dan produktif.
Kedua, para pemimpin madrasah perlu memperdalam pemahaman mengenai sejarah Muhammadiyah, nilai-nilai perjuangan para pendirinya, serta visi dan misi Persyarikatan. Menurutnya, pemahaman tersebut akan menjadi kompas dalam mengambil berbagai kebijakan dan mengembangkan madrasah di tengah tantangan zaman.
“Kepala sekolah juga perlu memahami, membaca sejarah Muhammadiyah dan perjuangan tokoh-tokohnya agar paham visi dan misi perjuangan Muhammadiyah,” ungkapnya.
Mengakhiri sambutannya, Irwan mendorong untuk terus membangun budaya inovasi di lingkungan madrasah Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa kemajuan hanya dapat diraih apabila setiap insan pendidikan memiliki keberanian menghadirkan gagasan-gagasan baru yang bermanfaat bagi kemajuan umat dan bangsa.
“Pesan saya, lakukan sesuatu yang orang lain belum pikirkan,” pungkasnya. (Bhisma)